Setelah menjadi pembicaraan mengenai adanya keterlambatan pembayaran sewa Stadion Manahan yang mencapai lebih dari 2 miliar rupiah oleh Tim Persis Solo, akhirnya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) memberikan respons terkait isu tersebut.
Dihubungi via telepon pada Selasa, 14 April 2026, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Solo, Rini Kusumandari mengatakan bahwa jumlah tagihan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab Persis Solo saja.
Rini Kusumandari juga mengatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan manajemen Persis Solo mengenai tagihan yang ada guna menyelesaikan kewajiban yang belum terbayar.
Kita sudah berbicara dengan tim manajemen dan mereka juga memastikan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Semoga setelah musim ini mereka bisa menyelesaikan hal itu. Jadi mereka sudah berkomitmen untuk segera menyelesaikan. Jadi, total keseluruhan itu mencapai Rp2 miliar, itu semua tagihan, tidak hanya dari Persis saja,” kata Rini Kusumandari.
Tagihan total tersebut dicatat oleh Dispora Solo mulai dari tahun 2024 hingga 31 Desember 2025. Persis sendiri dikatakan telah membayar tagihan yang masih terutang sebesar Rp40 juta. Selain Persis, pihak lain yang tidak bisa disebutkan, seperti Dispora Solo, juga sudah ada yang membayar tagihan yang sedang berjalan hingga Rp100 juta.
Rini Kusumandari menambahkan bahwa pihaknya tidak menentukan tenggang waktu pasti untuk pelunasan kewajiban dan tidak menetapkan cicilan kepada Persis Solo.
“Belum ada tenggat waktu pembayaran yang ditentukan. Namun, mereka telah menyatakan komitmen untuk melunasi kewajiban tersebut. Sementara itu, besaran nominal yang harus dibayarkan juga masih belum dipastikan,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama Persis Solo, Ginda Ferachtriawan mengatakan bahwa pihaknya selalu berkomunikasi baik dengan Dispora. Menurutnya juga, kewajiban yang sudah ada tetap akan diselesaikan dengan baik.
Jadi sebagai klub yang profesional, semua kewajiban pasti akan kita lakukan. Sekarang ini jadi berita ya bisa kita sampaikan itu adalah kewajiban yang ada (tunggakan), dan karena proses ini juga melibatkan tim yang bertanding di Kota Solo, maka itu bagian dari Kota Solo. Sekarang ini kita memang sedang fokus pada hasil tim ya di sisa laga kompetisi ini,” kata Ginda Ferachtriawan.
Dikonfirmasi terkait adanya kendala keuangan yang menyebabkan terjadinya tunggakan sewa lapangan, Ginda menegaskan bahwa keuangan tim memang bergantung pada sponsor serta berbagai hal lainnya. Saat ini, Persis Solo juga sedang menerima hukuman larangan pengunjung, yang berdampak pada penurunan pendapatan tim.
“Adanya pelarangan penonton ini juga ada potensinya. Satu pertandingan kita bisa mendapatkan mungkin sekitar Rp500 juta hingga Rp1 miliar, yang sebelumnya bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan tim.Sekarang, karena tidak ada penonton, mungkin ada gangguan, ya, mungkin sedikit terganggu.Tapi, sebagai klub profesional, apa pun yang menjadi kewajiban, kita akan penuhi,” tambahnya.(JK)


