Manajemen Persijap Jepara akhirnya memberikan respons terkait hukuman berat yang dijatuhkan oleh PSSI melalui Komisi Disiplin PSSI. Sanksi tersebut muncul setelah insiden kericuhan antarsuporter yang terjadi saat menghadapi Persis Solo pada pekan ke-24 BRI Super League musim 2025/2026.
Pertandingan derby Jawa Tengah tersebut digelar di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, pada Kamis malam. Dalam laga itu, situasi memanas ketika sebagian pendukung kedua tim terlibat aksi saling lempar dari tribun stadion, sehingga memicu kericuhan yang cukup serius di area penonton.
Kronologi Insiden di Stadion Gelora Bumi Kartini
Keributan bermula ketika suporter dari kedua kubu yang berada di tribun berbeda terlibat saling ejek dan lemparan benda. Kondisi tersebut membuat suasana di dalam stadion menjadi tidak kondusif.
Selain mengganggu jalannya pertandingan, kericuhan juga berdampak pada keamanan perangkat pertandingan dan tim tamu. Bahkan, rombongan tim Persis Solo sempat tertahan cukup lama di dalam stadion karena situasi di luar arena pertandingan belum sepenuhnya aman.
Insiden ini juga menimbulkan kerusakan pada sejumlah fasilitas di area stadion serta kendaraan milik perangkat pertandingan. Situasi tersebut menjadi salah satu alasan utama Komdis PSSI menjatuhkan sanksi tegas kepada pihak tuan rumah.
Rangkaian Sanksi dan Denda dari Komdis PSSI
Berdasarkan hasil sidang disiplin, panitia pelaksana pertandingan dinilai kurang maksimal dalam mengantisipasi kehadiran suporter tim tamu. Atas pelanggaran tersebut, panitia penyelenggara pertandingan dijatuhi denda sebesar Rp25 juta.
Selain itu, klub sebagai penyelenggara pertandingan juga dianggap tidak mampu menjaga ketertiban dan keamanan selama laga berlangsung. Kondisi yang mengakibatkan gangguan terhadap tim tamu serta perangkat pertandingan membuat klub kembali dikenai denda tambahan sebesar Rp40 juta.
Sanksi lain juga diberikan akibat perilaku suporter yang melempar benda ke arah perangkat pertandingan setelah laga usai. Aksi tersebut terjadi ketika perangkat pertandingan berjalan menuju lorong stadion dari tribun bagian barat.
Komdis juga mencatat adanya kerusakan fasilitas stadion serta kendaraan milik perangkat pertandingan sebagai dampak dari kerusuhan yang terjadi di tribun VIP barat. Pelanggaran tersebut berujung pada denda yang jauh lebih besar, yaitu Rp100 juta.
Larangan Menggelar Pertandingan dengan Penonton
Selain hukuman finansial, Persijap juga harus menerima sanksi non-finansial yang cukup berat. Klub berjuluk Laskar Kalinyamat tersebut tidak diperbolehkan menggelar pertandingan kandang dengan kehadiran penonton selama lima laga.
Keputusan ini tentu menjadi pukulan bagi tim yang tengah berusaha memperbaiki posisi di papan klasemen. Dukungan langsung dari suporter selama ini menjadi salah satu faktor penting bagi Persijap dalam meraih hasil positif saat bermain di kandang.
Dalam beberapa laga terakhir di Stadion Gelora Bumi Kartini, tim asal Jepara tersebut berhasil mengumpulkan hasil yang cukup baik. Catatan tersebut membantu mereka keluar sementara dari zona degradasi klasemen liga.
Sikap Persijap Menghormati Keputusan Federasi
Meski menerima hukuman yang cukup berat, manajemen Persijap memilih untuk menghormati keputusan yang telah ditetapkan oleh Komisi Disiplin PSSI sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Klub berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk suporter, agar insiden serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. Sebagai sesama wakil dari Jawa Tengah di kompetisi tertinggi sepak bola nasional, hubungan antara Persijap dan Persis diharapkan tetap berjalan baik demi kemajuan sepak bola daerah.


